Quote




Be thankful for what you have; you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough.

~ Oprah Winfrey

Jumat, 07 Maret 2008

Budaya Jawa yang Arif


Yen pesthine mesthi kelakon
Siapa sangka Petruk bisa menjadi ratu?

Wong Jawa ojo ninggalne Jawane”. Begitulah pesan Ibu saya beberapa waktu lalu. Suatu pesan yang mengisyaratkan bahwa tidak sepantasnya saya mengabaikan budaya dimana saya dibesarkan. Ayah dan Ibu saya adalah orang Jawa asli. Mereka lahir di daerah pedesaan Sukoharjo, Jawa Tengah.

Ibu saya sebenarnya ingin sekali anak-anaknya memahami budaya ini. Setiap kali ada peristiwa yang menimpa seseorang atau anggota keluarga kami, entah menyangkut rezeki, jodoh atau musibah, Ibu selalu mengaitkannya dengan hitungan Jawa atau bahkan mimpi yang pernah dialaminya.

Saya tidak menganggap hal ini sebagai suatu bentuk kepercayaan tertentu. Yang saya tangkap adalah, Ibu mencoba mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bukan suatu kebetulan. Setiap takdir ada pertanda yang mengawalinya (bagi yang sudah membaca The Alchemist karya Paulo Coelho tentu paham akan hal ini). Mimpi seseorang bukan hanya sekedar bunga tidur, tapi bisa jadi itu merupakan suatu pertanda akan terjadinya suatu peristiwa. Termasuk hari kelahiran, weton hingga golongan darah, tentu ada maknyanya. Kita hanya harus lebih peka mengenali pertanda-pertanda ini.

Budaya Jawa memang tidak sembarangan, sangat penuh dengan perhitungan, Konon, almarhum Presiden Soeharto pun juga menggunakan budaya Jawa sebagai referensi dalam menjalankan pemerintahannya (Suara Merdeka, 3 Februari 2008). Tak ada faktor kebetulan bagi Pak Harto dalam meraih kekuasaan. Semua sudah dirancang, semisal bowo leksono narendra gung binethara ing bahu dinda hanyakrawati berbudi bowo leksono. Satu ucapan harus jalan, tidak ada diskusi, tidak ada bantahan. Raja besar ibarat dewa yang memegang hukum, menguasai dunia.


"Cool"

Beberapa waktu yang lalu saya membaca blog teman saya yang menyimpulkan bahwa orang Italia hidup secara santai. Orang Jawa menurut saya, malah lebih nyantai lagi. Hidup samadya (sedang, sewajarnya) dan tidak tampak ngaya (terlalu memaksa diri) adalah contoh perilaku nyantai itu. Hampir semua persoalan hidup dikaitkan dengan kekuatan Yang Maha Tinggi, yakni Tuhan sebagai penentu kehidupan seseorang.

Istilahnya narimo ing pandum, menerima, karena memang tidak ada daya dan kekuatan untuk menghindari takdir Tuhan. Semua harus diterima didasarkan pada keyakinan bahwa manungsa sadrema nglakoni (manusia hanya sekedar menjalani) dan Gusti kang wenang nemtokake (Tuhan yang berwenang menentukan). Rika lamun ketaman, ora getun lamun kelangan (ikhlas jika tertimpa musibah, tidak menyesal jika kehilangan). Karena segala yang ada pada seseorang (anak, istri, harta, kenikmatan, kesehatan, kebahagiaan, kepandaian dan apa pun juga), hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa.

Bacaan:
Gusti Ora Sare : 65 Mutiara Nilai Kearifan Budaya Jawa karya Pardi Suratno dan Henniy Astiyanto. Diterbitkan oleh Adi Wacana, Yogyakarta tahun 2005.

12 komentar:

judith mengatakan...

Lho mas Dokter dapet darimana gambar petruk-e ??? wah, pingin aku,tak pajang dikumpulan foto keluargaku,kebetulan rupane petruk kok koyok bojoku,irunge lho ...

Anggap saja kuwi Karikatur wajah-e ojobku eh bojoku ...
Ndrie,aku nggak pernah lho ngimpi nikah karo petruk,tapi Gusti wes paringi ngono,hiks ...

Andri Kusuma Harmaya mengatakan...

Wah...wah...irunge mancung noh...hakhak...Mbak, aku pengin ngimpi iso nang Swiss...trus maen ski...hoho. ^o^
Gambare tak jupuk soko kene mbak:
http://www.geocities.com/wayangpurwa/petruk.jpg
Salam.

Dyah Peni Tunjung Sari mengatakan...

senang deh tahu kalau ada anak muda yg masih peduli dg budaya negaranya :)

Cari tahu lebih banyak dari ibu bapak Ndri, sebelum telat.

Andri Kusuma Harmaya mengatakan...

Yg paling saya kuasai (lebih tepatnya saya sukai...hehe..) adalah soal weton.Misale si A weton ini,apakah cocok bila menikah dg si B dg weton itu..Sebenarnya masih banyak lg...sayangnya saya jg bukan murid yg rajin..hihi. ^_^

Dani Iswara mengatakan...

mesti dilestarikan itu..salut mas andri masi minat dgn budaya lokal :)

salam

koboi urban mengatakan...

betul sekali itu mas, saya lahir dan besar di jakarta dan bekasi, tapi saya orang jawa asli..kurang lebih 6 tahun saya di solo, selalu berusaha menjadi 'orang jawa', setidaknya dari bahasa yang digunakan..
dan kadang suka heran liat orang solo yang ber elu-gue, hellooo?! :(

meminjam istilah Umar Kayam, semua ini adalah satu 'skenario agung'..saya tidak pernah percaya sama yang namanya kebetulan..
3-4 bulan sebelum ibu saya meninggal, saya bermimpi kalau beliau meninggal sampai saya merasa seperti menangis di dalam mimpi itu..and it happens

benar kata sampeyan, kita harus lebih peka terhadap tanda-tanda..tapi bukan berarti juga kita terobsesi akan tanda dan menjadi seorang geek yang maniak klenik :)
tidak ada salahnya menjadi orang peka

andrei-travellous mengatakan...

negara yang besar adalah negara yang menghargai jasa pahlawan dan budaya nya :)

salam hangat :)

Andri Kusuma Harmaya mengatakan...

@ Dani Iswara:
Terima kasih mas Dani.. ^_^

@ Koboi Urban:
Lha iya to mas...Kalo bukan kita,siapa lg yg akan melestarikan budaya ini..Penginnya sih anak cucu saya (kalo dikasih...hehe..) minimal suka sama yg namanya wayang kulit (kalo belum punah lho ya...).Soale banyak pelajaran berharga dari sana.
Bertemu dengan Anda,saya pikir jg bukan suatu kebetulan..Tentu ada hikmahnya.. ^_^

@ Andrei-Travellous:
Salam balik mas Andrei.. ^_^

geLLy mengatakan...

yupi tull tull setuju bngtt,mencintai N mengharagai apa yg kita miliki...blh tengok tetangga asal ga' menghina milik sendiri..

Andri Kusuma Harmaya mengatakan...

Weitz...Tetangga yg mana ya gel?Apakah termasuk tetangga yg mengklaim milik kita sebagai milik dia? @.@

Dony Alfan mengatakan...

Btw, bacaan kita kok sama ya, saya juga punya buku "Gusti Ora Sare" itu. Sampai sekarang saya masih percaya dengan perhitungan kelahiran atau weton, menurut saya itu bukanlah ramalan, melainkan sebuah ilmu patiten yang dibuat oleh pendahulu kita. Di rak buku bapak saya ada buku Primbon Jawa yang sesekali saya buka untuk mengetahui watak seseorang, hehe

Ritual-ritual budaya Jawa yang saya lihat dari viewfinder seringkali menjadi pengingat bahwa saya ini Jawa, meski muka mirip Cina, haha...

Oiyo, nek ngomong soal falsafah Jowo, Mas Megono sing Sangit kae ahline

Andri Kusuma Harmaya mengatakan...

Buku "Gusti Ora Sare" itu best seller lho mas Dony...jd selain kita mesti banyak yg dah punya... ^_^
Mas Megono sudah saya link...Mungkin saya akan banyak berhubungan dg dia..

Recent Comments