Cari Sesuatu Dari Blog Ini?

Foto Saya
Andri Journal
Berisi kisah perjalanan hidup seorang dokter Jawa, berikut komentar dari para fans. E-mail:andrijournal@gmail.com
Lihat profil lengkapku

Recent Comments

Minggu, 06 Desember 2009

Jalan-Jalan ke Solo

Hari minggu yang lalu, aku mendapatkan kesempatan langka: mengajak jalan-jalan dua cewek sekaligus!Ihiy.Niatnya hanya mengajak satu cewek,tapi kasihan melihat teman cewek satunya ‘nganggur’, jadilah kuajak keduanya. Istilah kasarnya, beli satu dapat dua! Hebat benar boi.

Meski badan capek, tetapi the walking-walking must go on. Tujuan pertama Timlo Sastro. Lokasinya dekat dengan Pasar Gede Solo. Dapat referensi warung ini dari internet. Sebenarnya, hari sebelumnya aku sudah menyambanginya. Tapi saat itu warung sudah tutup. Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, aku pun mendatanginya lebih awal. Ramai sekali warung itu. Warung yang ramai punya tiga kemungkinan. Pertama, masakannya enak. Kedua, harganya murah. Atau ketiga, penjualnya Britney Spears!


“Bedanya nasi timlo dengan timlo komplit apa pak?”, tanyaku pada penjual sebelum memesan makanan.

“Kalo timlo komplit ada telurnya, ada ….”, kalimat selanjutnya aku tidak terlalu mendengar karena suara dalam warung yang riuh.

Aku akhirnya memesan timlo komplit dua porsi dan nasi timlo satu porsi. Harga timlo komplit 12.000 rupiah. Antara kuah dan nasi, pada timlo komplit, disendirikan. Lalu, ada juga es kuas. Rasanya mirip Madurasa-nya Air mancur, yaitu madu dengan rasa jeruk nipis. Kurang lebih seperti itu, kalau lidahku tidak salah baca.


Setelah kenyang, kuajak kedua gadis tadi blusukan ke Pasar Gede untuk mencicipi yang namanya es dawet. Akhirnya ketemu dengan warung dawet selasih Bu Watik. Mangkok yang dipakai adalah mangkok kecil, seukuran dengan mangkok yang dipakai penjual wedang ronde. Komposisinya (seperti bisa dilihat di gambar): ada bubur sumsumnya, ada ketan irengnya, ada cendolnya, ada santennya dan tentu saja, ada selasihnya. Kawan, apakah itu selasih? Selasih itu adalah biji buah kemangi. Bentuknya bulat-bulat kecil menggemaskan.

Tujuan berikutnya adalah Pusat Grosir Solo. Di sini tempatnya membeli baju, terutama batik, dengan harga terjangkau. Batik bisa juga dijumpai di Pasar Klewer. Dari Pasar Gede, kedua tempat ini cukup dekat, jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki. Dengan energi yang didapat dari Timlo Sastro dan Dawet Selasih, kedua gadis pun berjalan dengan bermandikan teriknya mentari.


Jika ingin sholat, masjid yang relatif dekat ada di sebelah barat Alun-Alun Utara, yaitu Masjid Agung Surakarta. Dari Pusat Grosir Solo ke masjid suasananya relatif teduh, karena di sepanjang jalan terdapat beberapa pohon beringin besar yang menaungi. Nah, tepat di sebelah selatan masjid itu lah letak Pasar Klewer. Selain batik, ada juga penjual oleh-oleh makanan kecil di sini, macam intip, jenang dodol maupun brem.

Kiranya itu dulu jalan-jalan di Solo kali ini. Semoga bisa bermanfaat bagi panjenengan semua. Nuwun.

Jumat, 04 Desember 2009

Sang Pemimpi


Selasa, 01 Desember 2009

Lahirnya Si Bocah Senin Wage

Mengawali chapter 29: Sang Pemimpi, maka aku beberkan sedikit tentang kelahiranku. Orang yang pertama kali kecewa menyaksikan kelahiranku tidak lain adalah ibuku sendiri. Ibu kecewa, karena aku lahir dengan kulit hitam, menuruni warna kulit bapakku.

Aku lahir pada hari Senin Wage, 20 September 1982 bertepatan dengan 1 Besar 1914 Tahun JIMAKIR Windu KUNTARA, atau dalam kalender Hijriyah 1 Zulhijah 1402 H. Neptu-ku berjumlah 8, yang berasal dari penjumlahan Senin (4) dan Wage (4). Wuku JULUNGWANGI, Pangarasan Lakuning Geni, Pancasuda Wasesa Segara, Dina Kuda, Lintang 12 Lintang Akrab (Arab), Pranotomongso KAPAT (19 September - 13 Oktober) dan memiliki Bintang VIRGO (22 Agustus - 22 September).

Sifat-sifat yang sangat menonjol, menurut horoskop Jawa, antara lain dermawan, tidak pelit, suka memberi/beramal, pemurah, ramah, sopan, mudah tersinggung/emosi, peka perasaannya, dan seorang yang pintar.

Sifat-sifat yang lain, masih menurut horoskop Jawa, antara lain disukai/disenangi kawan (banyak orang menyukai/mengasihi), serta banyak teman dan sahabatnya, jujur, terbuka, terus terang, suka menolong / membantu, mudah dimintai bantuan, ringan tangan, pemarah, mudah naik darah, kalau marah berbahaya, suka merusak ataupun susah redanya, mudah kalap, berbudi luhur, luas budinya, cakap, tangkas, terampil, baik hati, mulia, kesucian, pengasih (walaupun kadang-kadang mempunyai sifat kurang mempunyai rasa asih, tak mau kalah & dikalahkan, ingin menangnya sendiri, selalu ingin dikasih lebih, suka kebersihan, suka keindahan, disayang/disenangi atasan/pembesar, bukan tipe pendiam (banyak tingkah), cerewet & banyak bicara, pemaaf, mudah melupakan peristiwa yang menyakitkan hati, berwibawa/punya kepribadian yang berpengaruh, banyak orang yang segan/hormat, bertanggungjawab, mudah terpengaruh/tergoda/terbawa suasana, dan angkuh.

Sifat mudah tersinggung/emosi didapat dari Pangarasan. Pangarasan adalah penggolongan sifat manusia berdasarkan urip, saptawara dan pancawara. Urip, juga disebut dengan neptu. Di beberapa tempat di Jawa, sebutan neptu otomatis sudah merupakan jumlah dari urip saptawara dan urip pancawara. Saptawara adalah tujuh hari dalam seminggu, yaitu Minggu (5), Senin (4), Selasa (3), Rabu (7), Kamis (8), Jum’at (6), dan Sabtu (9). Sedangkan Pancawara adalah hari pasaran, yaitu Legi (5), Paing (9), Pon (7), Wage (4) dan Kliwon (8). Lakuning Geni dalam Pangarasan sifatnya api, artinya temperamental, mudah marah dan naik pitam.

Sedangkan sifat pemurah didapat dari Pancasuda. Pancasuda atau pawisesan adalah penggolongan sifat manusia yang dihitung dari angka-angka khusus yang diberikan kepada saptawara dan pancawara. Wasesa segara artinya pemurah, pemaaf, berwibawa dan bertanggung jawab.


Wuku Julungwangi

Julungwangi (kiri) menghadap Batara Sambu yang memegang umbul-umbul dan
menyanding Jembangan. Burung Kutilang terbang di atas pohon Cempaka.

Ciri-ciri wuku Julungwangi adalah sebagai berikut (lihat pada gambar). Dewa yang menaungi wuku Julungwangi adalah Batara Sambu. Banyak orang suka atas pembawaannya, sehingga orang yang berada di bawah naungan wuku Julungwangi umumnya gampang memperoleh rezeki. Kayunya adalah pohon Cempaka, perwatakannya mempunyai kelebihan dalam hal daya tarik. Burungnya adalah burung Kutilang, wataknya micara, banyak bicara. Menghadap jembangan, wataknya rela atas pemberian dengan harapan supaya tercapai kehendaknya. Membawa umbul-umbul, wataknya dekat dengan kemuliaan dan disegani oleh orang besar.

Peluang Usaha