Quote




Be thankful for what you have; you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough.

~ Oprah Winfrey

Senin, 23 Februari 2009

Lina Y Agen

“PRAJURIT: Prasaja, Jujur, lan Irit”
~ Falsafah Jawa


Seorang wanita berusia 56 tahun sedang melayani pasien yang sedang mendaftar di loket Puskesmas Terusan Tengah, Kapuas.

“Kartu berobatnya dibawa tidak Pak?”, kata Bu Lina.

“Waduh…Kartunya sudah hilang Bu”, kata pasien dengan cengengesan.

“Bapaaaak…Kartu itu penting. Soalnya kartu itu fungsinya untuk mencari arsip pasien. Dengan arsip kan dokternya nanti tahu sakit-sakitnya bapak yang kemarin”, kata Bu Lina sedikit gemas.

“Iya Bu”, kata pasien sambil garuk-garuk kepala seperti halnya anak SD yang lupa mengerjakan PR.

Memang bukan kali ini saja pasien menganggap remeh barang bernama ‘kartu berobat’. Padahal kartu itu penting untuk mencari rekam medik yang jumlahnya ribuan. Bu Lina sendiri terkadang sampai geregetan dengan perilaku pasien seperti ini.

Di lain waktu.

“Sabaaaaarrr….sabarrr…kalau sabar semua kebagiaaaaaan”, kata beliau ketika beberapa orang berebut untuk mendaftar di loket Puskesmas.

“Toh dokternya gak kemana-mana. Iya kalo.”

***

Bu Lina, yang bernama lengkap Lina Y Agen, adalah perempuan tua berperawakan kecil dengan tinggi badan 148 cm dan berat badan sekitar 44 kg saja. Pun sudah tergolong lansia, dirinya masih lincah. Kawan harus tahu, bukan perkara mudah untuk sekedar mencari arsip data berobat pasien yang jumlahnya ribuan itu. “Bu Lina itu hapal nomor pendaftaran sebagian besar pasien lho dok”, kata Cicik yang juga adalah SKM (Sarjana Kesehatan Masyarakat) di Puskesmas kami.

Saya sendiri tidak menyangka bahwa wanita Dayak ini dulunya adalah Kepala Puskesmas pertama di Terusan Tengah. Saat itu, tepatnya pada tahun 1980, beliau pertama kali menjejakkan kaki di Terusan Tengah yang saat itu masih didominasi oleh hutan belantara, tiada listrik, dan jalanan masih berlumpur. Tentu bukan keputusan yang mudah bagi seorang wanita lajang untuk memulai karir sebagai perawat di desa terpencil, jauh dari peradaban, jauh dari sanak saudara. Tapi Bu Lina muda telah memilih jalan hidupnya.

Bu Lina adalah tenaga kesehatan pertama di Terusan Tengah. Dahulu, jabatan rangkap pun beliau emban: sebagai dokter, perawat, bidan sekaligus tenaga administrasi. Entah sudah berapa ratus bayi lahir dengan bantuan beliau. Yang jelas, Bu Lina adalah saksi hidup perkembangan dunia kesehatan di Terusan.

Jodoh pun akhirnya juga beliau jumpai di Terusan. Dirinya menikah dengan pria Dayak yang juga guru SD di desa ini pada tahun 1982. Suaminya lebih muda enam tahun dari beliau. Sekarang beliau sudah memiliki dua anak: Dedem yang Sarjana Pertanian dan Yeyen yang saat ini sedang menempuh kuliah di Palangkaraya.

Suatu sore, saat Bu Lina sedang membersihkan pekarangan rumah, saya bertanya kepada beliau.

“Apa yang membuat Bu Lina betah tinggal di Terusan ini”, kata saya. Perlu juga Kawan ketahui bahwa beberapa pegawai di Puskesmas sudah mengajukan pindah, padahal baru beberapa tahun bekerja di desa terpencil ini. Rata-rata mereka tidak kerasan karena tinggal berjauhan dengan suami.

“Di mana pun kita berada, asal kita pasrah pada Tuhan, maka kita tidak akan kekurangan Pak. Rejeki itu mesti ada”, kata beliau.

“Saya tenang tinggal di sini, soalnya tidak banyak keinginan untuk membeli barang ini itu”, lanjutnya.

Bu Lina juga pernah mengatakan bahwa perkembangan desa Terusan memang cenderung lambat, kalau tidak mau dikatakan jalan di tempat. Pekerjaan mayoritas penduduk yang hanya petani membuat penduduk hanya memiliki penghasilan pas-pasan, artinya tidak mempunyai uang lebih untuk membeli barang-barang mewah. Jalan ‘protokol’ desa yang menghubungkan antar blok pun tidak banyak berubah dari dulu, masih saja berlumpur bila hujan deras tiba.

Selain bekerja di Puskesmas, Bu Lina juga mempunyai pekerjaan sampingan sebagai petani. Dirinya memiliki sawah, meskipun tak terlalu luas. Beliau bersama suami yang mengerjakan sawah itu. “Hasilnya cukup untuk makan setahun Pak…jadinya uang gaji tetap utuh”, kata beliau sambil terkekeh.

Dua puluh sembilan tahun Bu Lina mendarma baktikan ilmu kesehatan yang diperolehnya untuk masyarakat transmigran di Terusan Tengah, yang notabene mayoritas adalah etnis Jawa. Tinggal jauh dari etnisnya sendiri yang kebanyakan tinggal di daerah hulu sungai sana. Dan bulan April nanti, beliau sudah memasuki masa pensiun.

Lina Y Agen, wanita Dayak Mayan beragama Kristen, perintis pembangunan di bidang kesehatan di suatu desa yang mungkin tak pernah Anda jumpai di peta, rupanya sudah paham betul makna “nrimo ing pandum” dalam sanubarinya. Ternyata Kawan, tidak harus menjadi orang Jawa untuk menjadi orang baik.

* Artikel ini diikutkan dalam lomba penulisan ‘wanita sumber inspirasi’ yang diadakan oleh PT Tupperware Indonesia.

15 komentar:

Judith mengatakan...

Abis mbaca artikel ini, tujuan pertama ngeklik Tupperware Indo dulu :D *maniak Tupperware* Liat liat..

Trus, .. aku kok dhadi kelingan eyang Putriku :( yang mendidik dan membesarkan aku dan adiku, meskipun dengan uang pas2an dari pensiunan Polri Wanita, trus eyang kakung juga Polisi.. gajine sithik :( .. Trus dhadi kelingan kota Solo, tempat dimana aku dibesarkan oleh mereka. Dan mereka berdua sudah almarhum kurleb 5 tahun lalu :((

Andri .. banyak2 belajar dari pengalaman dan menimba faedah yang baik dengan orang2 sekitar seperti bu Lina ikiy, hidup harus berjuang dengan dan cara yang baik. Kadang masih ada orang yang sombong mentang2 mereka sekolah lebih tinggi, dapet jabatan dan sukses, kuharap Andri nggak gitu yaw :D, kadang teori dan praktek tuh nggak sama..

Mo jadi orang baik, belajar dari pengalaman pahit.. Mo jadi orang sukses, belajarlah yang baik2 :D

Wes yo sakmono dhisik welingku Ndri :) Hidup bu Lina Y Agen!

Tukang Nggunem mengatakan...

Weh, kowe rajin men melu lomba2 nulis artikel...sajake lagi ngoyak setoran nggo rabi kih...sido balik Solo MAret??? tak tunggu nang Wedangan mas Wandi..okeh???

Andri Journal mengatakan...

@ mbak Judith:
Moco komentarmu aku nangis2 mbak,bukane opo2..lha pas moco aku wahing2+irung buntet goro2 kakean ngombe es. :D Sendiko dhawuh mbakyu.Sing jelas aku isih cupu lan kudu meguru marang wong2 kang 'linuwih' termasuk soko awakmu. ;p Matur nuwun mbakyu. :)

@ mas Panjul:
Inggih mas,lha yen menang mengko duite meh arep tak nggo tuku kaos nang Martapura kanggo awakmu ro mas Dony.Mulane,dongakke menang yow. :D
**tos dhisik**

Anonim mengatakan...

Two thumbs buat bu Lina...ditambah standing applause deh :) sedikit wanita yg bisa melakukan hal besar kyk gt...aku aja mgkn blum tentu bìsa kalau hrus hdup didesa terpencil yg tak bnyak orang menginjakkan kakinya disana...wah2..salut deh...

hmm...moga menang deh dilomba tulis menulìsnya,kok km tau toh kang klo ada lomba2 gt?dari milis kah?

Britney
miss u ;)

Andri Journal mengatakan...

@ Britney:
Infonya aku dapatkan dari koran Kompas Brit.Kalo menang ntar tak traktir pizza ukuran large!Hahaha..Kalo untuk hidup di daerah terpencil kayaknya km emang gak bakalan kerasan.Km kan biasa mejeng di mall. :p Gak perlu seperti Bu Lina..Jadi istri yg baik pun menurutku itu sudah merupakan hal yg besar dan diacungi 4 jempol. :D

rumah lina mengatakan...

Top deh tulisannya, memang ada banyak Lina Y Agen yang lain (namaku jg lina hihihi)yang selalu memberikan inspirasi hidup dalam kesederhanaan ada kemuliaan.

ririn mengatakan...

huaaa... tumben ndri.. postingnya ga tentang mba' mba' cantik.. bu Lina cantik juga kan yaa... ya iya lah, kan baik,, inner beauty, hehehe...

yahh.. ayo ndri.. semangat jadi dokter di sana.. ntar dapet istri orang dayak,, trus ntar gantian ku posting,, huhehehe

donlenon mengatakan...

perempuan kayak gini nih yang mustinya diperbanyak di indonesia. bukan kayak artis binal dari jawa timur yang saban bulan nikah siri itu...

*keluhan ini keluar karena merasa reputasi jawa timur semakin nggak jelas akhir2 ini..

travellous mengatakan...

Halo Pak Dokter apa kabar? maap baru berkunjung tengah menyiapkan buku masalahnya :D, terima kasih sudah mengabdi di tanah kelahiran saya di Kalimantan :D

Andri Journal mengatakan...

@ mbak Lina:
Iya nih,blognya mbak Lina menginspirasiku untuk posting pakai bahasa inggris. ;) Tp ya sekedar inspirasi,soalnya tidak didukung dg kemampuan berbahasa inggris yg baik. :p

@ Ririn:
Lho..Kalo nikah ama cewek Dayak trus si Britney yg komentar di atas itu tak kemanain? @.@ Aku yakin bu Lina dua puluh sembilan tahun yg lalu jg cantik seperti cewek Dayak pada umumnya. ;)

@ mas Donlenon:
Artis binal yg mana ya mas? @.@ Aku akhir2 ini udah gak pernah lg nonton infotainment,soalnya gak ada tv di rumah dinas..hiks..Itu ulah oknum aja mas.Kupikir cewek jawa timur pada umumnya baik2 aja kok. :)

@ Andrei:
Ndreeeeii..Aku pesan satu ya..Sekalian dikasih tanda tangan lho ya. :D Ntar tak kirim alamatku via email.BTW,itu pembayarannya via transfer bank kan?Oiya ndrei,bulan maret komunitas blogger Kalimantan Selatan maw ngadain Aruh Blogger '09 lho.Kupikir ini saat yg bagus untuk promosi bukumu.Sekalian pulang kampung kan? ;)

lola mengatakan...

good posting!

ijal mengatakan...

wah, ini dia ni kartini jaman sekarang..


mantap!

Dony Alfan mengatakan...

Moral ceritanya mirip Suster Apung itu ya, penuh dedikasi!
Sukses yak!
NB: Hadiahe gede ra?

Andri Journal mengatakan...

@ Lola dan Ijal:
Sip!Makasih ya. :)

@ mas Dony
Untuk informasi hadiah silakan klik di link PT Tupperware mas.Maw ikutan ya?Kupikir Ngatini itu bisa dijadikan salah satu wanita sumber inspirasi jg. ;p

Anonim mengatakan...

Thanks for info, I am always looking for something interesting on the Internet, i want to send
photos for your blog

Recent Comments