Quote




Be thankful for what you have; you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough.

~ Oprah Winfrey

Rabu, 11 Maret 2009

Syok Kardiogenik

Perlukah Dopamin Tersedia di Puskesmas Terpencil?



Bagaimana perasaan Anda bila suatu saat kedua tangan Anda diborgol, mulut Anda disumpal, sementara Anda dipaksa menyaksikan seorang anak ditikam berkali-kali tanpa ampun oleh seseorang dengan sebilah pisau? Pilu Kawan. Mungkin itu lah yang dirasakan oleh seorang dokter manakala pasiennya mengalami syok kardiogenik sementara keluarga tidak bersedia bila pasien tersebut dirujuk ke rumah sakit. Saya pernah mengalami hal ini beberapa waktu yang lalu.

Datang ke rumah saat pasien dalam keadaan syok. Tindakan pertama yang dilakukan tentu saja adalah resusitasi cairan. Dua liter Ringer Laktat sudah saya guyur tapi tekanan darah tak beranjak dari angka 70/palpasi. Motivasi ke keluarga rasanya sudah saya lakukan sampai mulut berbusa-busa, tapi keluarga tetap bersikukuh: “Jangan dirujuk dok, tolong diobati di Puskesmas saja”. Benar-benar pilu.

Guru-guru saya di Jawa mengajarkan, bahwa bila tekanan darah tidak naik setelah diguyur 500-1000 cc saja, maka ada kemungkinan syok yang terjadi adalah syok kardiogenik. Penyelamat jiwa dalam hal ini, dengan kehendak Tuhan, adalah dopamin dan dobutamin: salah dua dari sekian obat dewa. Tapi apa lacur, tidak ada dopamin di Puskesmas, apalagi Puskesmas non perawatan seperti Puskesmas tempat saya bekerja. Jadilah saya menjadi ksatria tanpa pedang, prajurit tanpa senapan, atau penjual nasi goreng tanpa wajan. Saya tahu solusinya, tapi saya tidak bisa menerapkannya. Sekolah enam tahun, berjibaku dengan buku setebal bantal, tiada artinya.

Dan hal itu hampir terjadi lagi beberapa hari yang lalu.

Di suatu pagi, jam tujuh waktu Indonesia bagian barat atau jam delapan waktu Indonesia bagian tengah, saya dipanggil keluarga pasien. “Pasiennya pingsan dok”, kata keluarga pasien dengan tergopoh-gopoh. Protap (prosedur tetap) Andri nomor delapan belas yang menyebutkan “bawa tiga botol Ringer laktat beserta seperangkat infus set bila ada pasien pingsan” pun saya terapkan. Dan memang berguna benar protap ini. Saat sampai di rumah pasien, tergolek seorang wanita 65 tahun yang terlihat gelisah, meraung-raung dengan bersimbah keringat dingin. Saya ukur tekanan darahnya, ternyata nol besar. Resusitasi cairan pun saya lakukan dengan guyuran tiga botol Ringer Laktat.

Dulu, sebelum PTT, saya pikir pasien syok itu selalu lemas tak berdaya, tanpa bisa berucap apa-apa. Tapi ternyata tidak demikian halnya. Selama hipotensi yang berat, gejala-gejala defisit neurologik dapat ditemukan. Kelainan ini biasanya tidak berlangsung terus jika pasien pulih dari keadaan syok, kecuali jika disertai dengan gangguan serebrovaskular. Saya punya kisah tentang ini, kapan-kapan lah saya ceritakan.

Tiga botol infus ternyata hanya bisa meningkatkan tekanan darah sampai 60/palpasi saja. Demi mengetahui hal ini saya lalu berembug dengan keluarga pasien.

“Pak, usaha yang saya lakukan sudah maksimal, tapi ternyata tekanannya tak bisa naik. Biasanya dengan tiga botol infus tekanan darah sudah normal…lha ini masih rendah.”, kata saya.

“Terus baiknya gimana dok?”, kata keluarga pasien.

“Yang paling baik ya dirujuk ke rumah sakit. Di sana peralatan dan obat-obatannya lebih lengkap. Semoga masih bisa ditolong sesampainya di sana nanti.”

Setelah berunding, akhirnya pihak keluarga setuju bila pasien dirujuk. Nah Kawan, langkah berikutnya adalah mencari sarana transportasi ke rumah sakit. Dan ternyata, baru empat jam kemudian keluarga pasien berhasil mendatangkan sebuah alat transportasi. Tebak, apa coba? Helikopter? Salah! Kapal selam? Salah! Kuda lumping? Ngaco! Alamak, ternyata kelotok! Huruf ‘o’ dibunyikan sesuai dengan huruf ‘o’ pada kata ‘konsonan’. FYI, kelotok adalah sebuah perahu bermesin yang kecepatannya lebih tinggi dari jukung tapi lebih rendah dari speed boat. Dengan kendaraan semacam ini paling cepat sampai rumah sakit sekitar 1,5 jam mengarungi sungai Kapuas. Paling cepat 1,5 jam, paling lambat 3 jam!

Singkat cerita, pasien ini sampai juga di rumah sakit dan konon kabarnya meninggal di rumah sakit dua hari kemudian. Kuberitahu Kawan, syok hanya bisa dilawan dengan satu kata: AGRESIF! Semakin cepat ditangani, semakin baik pula hasilnya. Bahkan dengan penanganan yang agresif pun angka kematian pada syok kardiogenik tetap tinggi, yaitu antara 80-90%. Jadi, bila di antara Kawan pernah selamat dari syok kardiogenik dan memiliki banyak uang, segera lah pergi naik haji ke Mekah.

Kesempatan itu, terkadang tidak datang untuk yang kedua kalinya.

12 komentar:

BIG SUGENG mengatakan...

Wah saya kalau baca kaya ginian nggak dong, saya ini kan tukang akuntan jadi nggak dong, cuma pingin tahu makanya sengaja jadi follower blognya tukang dokter gitu...

rumah lina mengatakan...

waduh serem banget yak syok kadiogeik... duh mudah2a diajauhin ma yang beginian. Hmm itu deh pak dokter orang di pelosok yang mungkin masih mengganggap pak dokter bisa menolong walopun tanpa pedang :)

Andri Journal mengatakan...

@ Big Sugeng:
Ya setiap orang kan punya keahlian masing2,sesuai dg profesi yg digelutinya.Bapak sendiri kalo membahas pembukuan yg pake debit-kredit itu aku mesti tambah pusing. :D Tp sebisa mungkin tak sampaikan supaya orang awam paham.Maaf kalo jadinya masih jg terlalu sulit dipahami bagi profesi selain dokter. :)

@ mbak Lina:
Lha iya to mbak.Dipikirnya dokter itu tahu segala macam penyakit dan cara mengatasinya.Kemarin itu malah ada orang manggil aku untuk ngobati orang kesurupan. :D Ya jelas ulun kada kawa. :)

Mbakyumu mengatakan...

Gek trus opo hubungane Syok Kardiogenik karo dek dokter lagi dholanan game? malah aku seng syok ndhelok Adiku nongkrongi game timezone, menang rak Ndri? :-D

Ha haa.. sukses selalu buatmu dan masa depanmu ya Ndri, seneng seng dhadhi pasienmu.. jarang2 dokter seng iso guyon koyok sampeyan *haiyah*

si Dyah mengatakan...

Om dokter kok cerita sama gambar gak nyambung yaa? Hehe. Kayak ksatria Baja hitam ato apa itu pendekar film anak2 Dari jepang!

Itu memang dukanya jadi dokter yaaa, keinginan utk membantu pasien skuat tenaga dikalahkan dg hal2 diluar kuasa. Tapi jangan menyeraaaah....

wirati mengatakan...

wah kisahnya sedih, but fotone kok main game to andri???????

Andri Journal mengatakan...

@ mbak Judith,mbak Dyah dan Wirati:
Syok hanya bisa dilawan dg satu kata: AGRESIF.Semakin cepat ditangani,semakin baik pula hasilnya.Main balapan kan jg demikian.Makin cepat motornya dan makin cakap jokinya maka besar kemungkinan akan memenangi balapan.Bedanya,pada syok kardiogenik dokter balapan dg maut. :)

`.¨☆¨geLLy¨☆¨.´ mengatakan...

-_-' SEreM bnGt dok..
jd kalau g cept di tangani cpt juja dol ya -_-" melasz..

dok kemarin aku kan k sby duduk sebangku ama org gawe di rs.wEw aku jd ingt dok andre :D
orny agak mirip juja cih :D
ramah... juja :D

dok makasih ya dach sering maen blogku ^_^

riRiN! mengatakan...

huakakaka.. ups, harusnya ga ketawa..
tapi dok.. itu pasiennya pingsan sih ya.. coba kalo bangun. liat tampang dokter yang dateng, sapa tau pengen nonjok, bikin emosi,,naa.. naik deh tuh tekanan darahnya...

hihihi...
ampun ndre.. :D

Anonim mengatakan...

waduh nggak nyambung...emosi antara baca posting vs liat gambar sangat bertolak belakang.... @.@

ya gini ini...pak dokter yang juga punya rasa humor srimulatan...@.@



Jeng Sri

Andri Journal mengatakan...

@ Gelly:
Gel, kapan kita kopdar? :D :D

@ Ririn:
Hipotesismu ada benarnya juga lho rin. Nemu dimana kamu? :p Menurut ilmu kedokteran memang adrenalin bisa meningkatkan tekanan darah. Bahkan, pada syok anafilaktik, bila terjadi sukar bernafas harus segera diberikan adrenalin intramuskuler 0,5 ml dengan pengenceran 1:1000.

Dony Alfan mengatakan...

Kadang aku juga merasa pilu, kawan. Bukan karena melihat orang yang mengalami syok kardiogenik. Tapi karena melihat wanita yang aku cintai bergandeng tangan dengan lelaki lain x)
Haha, kok malah OOT n curhat, sori ya dok!

Recent Comments