Quote




Be thankful for what you have; you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough.

~ Oprah Winfrey

Selasa, 20 April 2010

Diklat di Jogja

Aku pernah mengikuti beberapa diklat,dan di sana,aku bertemu dengan orang-orang yang benar-benar baru.Dimana-mana aku jumpai tipe orang,yang menurutku,hampir mirip.Selalu ada yang berperan seperti Nurdin si Penyiar Radio,ada Anto si Penjagal Sapi,ada Mamat si Pendiam,ada Mustafa si Alim,dan tak ketinggalan,Andri si Dungu.

Aku katakan penyiar radio karena memang biasanya orang ini gemar berbicara.Gaya bicaranya khas seperti penyiar-penyiar radio,renyah.Lalu ada penjagal sapi yang matanya seram dan bicaranya setengah berteriak.Si pendiam,sesuai namanya,diam saja.Hanya berkata bila mana perlu,tapi sekali bekata pasti lah berbobot.Si Alim tak pernah ketinggalan sholat,dan senantiasa mengutamakan sholat berjamaah.Di dahinya biasanya ada tanda kehitaman,mungkin bekas sujud.Dan terakhir si dungu,yang notabene cuma pelengkap saja.

Saat berkumpul pertama kalinya,akan sulit untuk menebak watak mereka masing-masing.Seiring perjalanan waktu lah kita akan melihat watak asli mereka.Boleh jadi Anto yang seram itu ternyata adalah orang yang sangat-sangat ramah ketika kamu benar-benar mengenalnya.Boleh jadi Nurdin yang cerewet itu sebenarnya orang yang setia kawan.Suatu kekeliruan manakala kita menilai seseorang dari pertemuan pertama.

Kembali ke masalah diklat.Diklat kali ini rencananya berlangsung selama dua minggu.Kegiatan dimulai dari jam 5 pagi dan baru berakhir jam 9 malam.Sungguh sangat melelahkan walaupun kegiatannya lebih banyak dilakukan di dalam kelas,mulai dari ceramah,games,sampai diskusi.Tidak heran,beberapa peserta yang daya tahan tubuhnya kurang bagus langsung jatuh sakit,apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa dengan ruangan ber-AC.Aku sendiri,terkena radang tenggorokan.Untungnya aku membawa obat dari rumah,sehingga tidak terlalu mengganggu aktivitas diklat.

Lain lagi dengan Seto yang mengeluh pinggangnya sakit.Kamar Seto kebetulan bersebelahan dengan kamarku.Kusarankan agar dirinya berobat di klinik.Keluhan mereda setelah minum obat dari dokter,tapi kambuh lagi begitu obatnya habis.

"Gimana?Udah mendingan?",tanyaku.
"Wah..aku tadi malam susah tidur.Sakit sekali..Rasanya seperti ditusuk-tusuk.."
"Nanti coba kamu ke klinik lagi aja setelah makan siang..barangkali dokternya punya obat yang lebih ampuh"

Aku menduga dirinya mengalami kolik renal,penyebabnya kemungkinan batu saluran kemih.Untuk memastikan tentu dibutuhkan pemeriksaan BNO dan urin rutin,yang mana pemeriksaan seperti itu hanya tersedia di rumah sakit.

Tak terasa diklat sudah berjalan seminggu.Sabtu sore para peserta diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.Aku sendiri memutuskan untuk tetap tinggal di asrama.Hari Minggu rencananya kugunakan untuk jalan-jalan di Malioboro.Sakitnya Seto belum juga reda,malah terkesan makin memburuk.Sementara klinik sore itu sudah tutup.

"Kamu mau gak aku suntik?Biasanya setelah disuntik gejalanya mereda."
"Terserah aja lah..yang penting sakitnya ilang..",kata Seto sambil meringis menahan sakit.

Aku pun mencari tumpangan mobil dari peserta yang saat itu bersiap-siap pulang.Waktu itu hujan deras,dan untungnya ada yang bersedia membantu.Apotek terdekat jaraknya kurang lebih 1 km.Aku tanya apakah ada ketorolac untuk injeksi,ternyata tidak ada.Sial.Aku pun hanya membeli obat untuk diminum.

Kami lalu pergi ke apotek yang lain.Dengan baju basah kuyup aku masuk apotek dan bertanya pada penjaga apotek apakah ada ketorolac untuk injeksi.Ternyata ada,tapi untuk membelinya harus memakai resep dokter.Untungnya aku membawa kartu identitas dari Konsil Kedokteran Indonesia.Mukaku mungkin tidak meyakinkan seperti seorang dokter,tapi begitu menunjukkan kartu itu,apoteker langsung percaya bahwa aku ini benar-benar dokter.Aku beli ketorolac 1 ampul,spuit 3 cc 1 buah dan kapas alkohol.

Sekembalinya ke mobil,temanku bilang kalau ada masalah.Aku lihat kiri kanan,tidak ada polisi.Pikirku,mobilnya terkena razia polisi,karena saat itu mobil diparkir sekenanya di dekat lampu lalu lintas.

"Masalahnya apa?",tanyaku.
"Mobilnya mogok".

Sial.

Dia minta aku untuk mendorongnya,kalau mau.Aku sebenarnya enggan.Hujan deras,badan capek,tapi apa boleh buat.Untung mobilnya tak begitu besar jadi tak terlalu berat.Mobil nyala,badanku basah kuyup.

Sesampainya di asrama,Seto masih tergeletak di ranjang.Langsung kusuntik ketorolac intramuskular dan dia kusuruh minum omeprazole.Tak berapa lama dia tertidur.Hari-hari berikutnya keluhannya kelihatannya semakin berkurang.Syukur lah.

Hari Minggu,aku dan beberapa orang temanku pergi jalan-jalan di Malioboro.Di Pasar Beringharjo,yang letaknya di ujung jalan Malioboro,ada jenang enak sekali,pantas untuk dicoba.Ini fotonya.

8 komentar:

Anonim mengatakan...

CIE CIE...YANG DAH SELESAI PRAJAB...AYO TRAKTIR-TRAKTIR KANG...

*DEK NA

Vicky Laurentina mengatakan...

Aku biasanya nggak nunjukin kartu KKI-ku kalau mau beli obat tanpa bekal resep. Aku cuman tersenyum a la Tamara Blezsynski, lalu semuanya beres.

*nyengir*

donlenon mengatakan...

weh, prajabe nang yogjo po pak?! sayang kita ga ketemu ya. Kalo ketemu, mungkin anda bisa memasukkan satu lagi watak mirip Orlando Bloom.. wkwk

baburiniix! mengatakan...

wow...selamat nih...

Dian mengatakan...

Alo..salam kenal ya..
Memanarik banget tuh bubur sumsum dan teman2 nya hehehe

yenni 'yendoel' mengatakan...

ikutan nyelamatin ah! selamat yah dok!
jenang itu apa yah dok? belum pernah makan. dulu ke malioboro gak merhatiin ada makanan ginian!

iyem mengatakan...

pengen buburnya.....

aJoe raChmasari mengatakan...

maaaaaaaaaasssss,
tolong berikan ancer-ancer dimana letak si jenang itu dijual????
aku pengen,lama banget gak makan begitu. tiap ke jogja si adekku yang dudul itu gak tau tempat jualan jenang macam itu
jelasiiiiin ya ancer2nya
^^

Recent Comments