Quote




Be thankful for what you have; you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough.

~ Oprah Winfrey

Selasa, 09 November 2010

Uji Nyali

Dalam hal uji nyali, aku mungkin termasuk orang yang cupu. Bisa jadi itu ada sangkut pautnya dengan selera makanku yang tidak menyukai sambal. Karena konon, orang yang doyan sambal adalah tipikal pemberani, contohnya istriku. Pemberani tentunya dalam hal-hal yang terpuji. Berani melawan orang tua dan suami tak masuk dalam hitungan.

Waktu kecil dulu, ketika hendak ke kamar mandi, aku tidak berani sendiri. Hampir selalu minta diantarkan oleh ayah atau ibu. Untuk Kawan ketahui bahwa kamar mandi keluarga kami terpisah dari rumah utama. Jalan menuju ke kamar mandi hanya diterangi oleh lampu 15 watt. Belum lagi kalau mendengar cerita dari ibu, kalau di belakang rumah kala itu ada makhluk bernama ngeblak. Seperti apakah wujud makhluk itu, aku tak tahu, masih misteri bagiku. Tapi, kata ibu, makhluk itu mengeluarkan suara "blak blak blak", mirip kepakan burung wandering albatross yang konon sayapnya mencapai panjang 11 kaki. Dan anehnya, masih kata ibuku, ketika kamu ingin melihat asal suara itu, kamu tak akan menjumpainya. Horor bukan buatan.

Dan bila ada pasar malam, aku menjauhi yang namanya Rumah Hantu. Aku pernah masuk sekali, dan aku tak mau melakukannya lagi. Menurut hematku, masuk Rumah Hantu adalah hal konyol, dan pelakunya biasanya kurang kerjaan. Meskipun aku kerap melakukan hal-hal konyol dan agak kurang kerjaan, setidaknya aku tidak melakukan sesuatu hal yang nantinya bisa membuatku susah tidur.

Lalu aku mengenal beberapa wahana yang menguji nyali namun tidak horor. Kawan tentu sudah mencoba roller coaster, kursi terbang, colombus, tornado, dan sebangsanya. Secara mengejutkan, aku baru tahu beberapa waktu yang lalu, bahwa istriku sudah mencoba semua itu. Hebat bukan buatan istriku yang satu itu. Aku, orang yang udik ini, tentu tak mengenal wahana-wahana canggih itu. Naik komidi putar sepertinya pernah pas pasar malam dulu. Aku mual-mual dan pusing setelah menaikinya.

Soal "roller coaster", ada gradasinya, mulai dari grade 1 sampai grade 3. Semakin tinggi gradenya maka akan semakin tinggi resikonya, semakin berbahaya.

Grade 1 adalah nonton film roller coaster 4 dimensi. Resikonya kecil, karena kita tidak berpindah dari tempat duduk kita. Disebut 4 dimensi karena kita menonton film roller coaster 3 dimensi sedangkan tempat duduknya bisa bergoyang ke kanan, ke kiri, bahkan ke belakang untuk memberi efek dramatis. Kalau tidak tahan, segera lepas kacamata 3D yang kita kenakan, efeknya pun jadi tak seberapa. Film ini memanipulasi visualisasi kita, dan otak menganggapnya sebagai hal yang nyata. Uji nyali ini cocok untuk semua umur.

Grade 2 adalah "roller coaster" dengan memakai balon pelampung yang bisa dijumpai di water park. Tingkat keamanannya sedang. Rutenya yang berupa lorong mencegah pemakainya terpelanting keluar. Resikonya paling-paling pelampungnya terbalik, kemudian jidat membentur pelorotan. Aih, amit-amit.

Kalau film 4D memanipulasi mata, "roller coaster" macam ini memanipulasi organ keseimbangan. Dalam kondisi gelap gulita, cairan yang ada di tiga saluran setengah lingkaran bergoyang mengikuti lekukan lorong perosotan. Dan ini lah yang membuat sensasinya menjadi begitu mendebarkan dan tak terduga. Penciptanya mungkin menderita vertigo, dan ingin supaya orang lain tahu, betapa menderitanya bila mengidap penyakit ini.

Grade terakhir adalah roller coaster beneran. Untuk yang ini belum bisa cerita, karena belum pernah mencobanya. Pernah mencoba yang setipe, namanya kursi terbang. Saat menjajalnya, yang ada yaitu bayangan: bagaimana kalau nanti terlempar, apakah nanti mendapat asuransi, dan hal-hal ngeri lainnya. Semoga kemungkinan-kemungkinan buruk itu tak terjadi.

15 komentar:

pandi mengatakan...

aku juga kali yach, termasuk yang bernyali kecil untuk masalah ketinggian dan horor, dan mungkin satu lagi untuk masalah P3K aku paling tidak kuat lihat darah. badanku biasanya jadi lemes kayak mau pingsan..

ReBorn mengatakan...

menyedihkan, kita sama-sama ga bisa makan pedes. gheheeh.

berkarya merajut harapan mengatakan...

vertigonya jd inspirasi ya.. postingnya nice, doc..

FaiKShare[dot]com mengatakan...

Nice article...

Nice to see your blog...

Keep Blogging Friend.....

tutorial blogging mengatakan...

blognya bagus
mari bertukar link dengan http://blog.umy.ac.id/tutorialblogging/ kalau mau kabari ya. terima kasih

sewa mobil di surabaya mengatakan...

nice blog

obat infeksi saluran kemih mengatakan...

keren sekali tuh gan informasinya semoga bermanfaat gan,salam kenal aja gan

Peluang Usaha mengatakan...

Walaupun saya tidak doyan sambal tapi saya juga tidak memproklamirkan bahwa saya adalah orang yg pemberani. Maksudnya? Ya saya ini juga bukan penakut penakut amat gitu :) Contohnya kalau nonton film horor (yang kata orang2 serem seperti the exorcist, the unborn dll) terutama sebelum nikah saya sukanya nonton sendirian dan lampu dimatiin. Wah seru itu...walaupun tetep aja enggak kerasa takutnya. Susah juga ya? Jadi penakut mau jadi pemberani, eh jadi orang yg susah takut pengen sekali-sekali ngerasa takut :)

masanjar mengatakan...

kalo ngilangin fobia ketinggian itu gimana yah

gamers mengatakan...

wah saya juga termasuk orang yg suka menguji adrenalin dan tantangan ekstrem, nice share nya gan

saya ksh game yg bgs nih, tantangan loh

join di hon idgs
join di aion idgs
join di o2jam idgs
join di gta idgs
forum khusus gamers

agussupri mengatakan...

uji nyali sekali-kali penting ,tapi harusdilatih secara bertahap,sehingga Percaya diri,

Outing mengatakan...

Nice article...

Salam Outing!

sinta mengatakan...

wahh klo saiia takut kalo hrs menguji nyali,,, :)

wisata indonesia mengatakan...

minum "adrenalin" memang asyik bro. release stress :)

azz handphone mengatakan...

hehehee... Semangat bwt mencoba uji nyali selama dlm hal kebaikan :) kalo uji nyali makan sambal...ooo tidak bisaa :D

Recent Comments