Quote




Be thankful for what you have; you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough.

~ Oprah Winfrey

Jumat, 21 Maret 2008

Penatalaksanaan Hipertensi Terkini (2008)

Berikut ini adalah hasil liputan saya saat mengikuti Seminar “Update Management of Hypertension” yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran UII di Auditorium Jogja Intenational Hospital pada tanggal 15 Maret 2008.




Data yang ada menunjukkan, di negara maju seperti Amerika, penderita hipertensi yang diobati sebanyak 59% dan yang terkontrol 34%. Di berbagai negara Eropa, penderita yang diobati hanya sebesar 27% dan dari jumlah tersebut, 70% tidak terkontrol.

Di Indonesia, berdasarkan penelitian Prof.DR.dr.H. Mochammad Sja’bani,M.Med.Sc,SpPD-KGH(2008), penderita hipertensi yang periksa di Puskesmas dilaporkan teratur sebanyak 22,8%, sedangkan tidak teratur sebanyak 77,2%. Dari pasien hipertensi dengan riwayat kontrol tidak teratur, tekanan darah yang belum terkontrol mencapai 91,7%, sedangkan yang mengaku kontrol teratur dalam tiga bulan terakhir malah dilaporkan 100% masih mengidap hipertensi. Hasil ini diduga karena keterbatasan fasilitas di Puskesmas, keterbatasan dana, keterbatasan obat yang tersedia dan lama pemberian obat yang “hanya” sekitar 3-5 hari.

Hipertensi pada akhirnya juga berdampak pada ekonomi masyarakat dan pemerintah. Penderita hipertensi di negara berkembang mencapai 37% pada tahun 2000 dan diperkirakan menjadi 42% pada tahun 2025 nanti. Bila dikalikan dengan penduduk Indonesia yang 200 juta jiwa saja maka setidaknya terdapat 74 juta jiwa penderita!Bayangkan uang yang harus dikeluarkan per harinya hanya untuk membeli obat hipertensi.

Belum lagi bila ternyata hipertensi sudah menyerang ginjal dan menyebabkan gagal ginjal. Tiap minggu si penderita harus pergi ke rumah sakit untuk cuci darah setidaknya dua kali seminggu dan biaya cuci darah sendiri mencapai 550 ribu rupiah per kali. Sedangkan untuk transplantasi ginjal, kita harus merogoh kocek setidaknya 150 juta rupiah.

Hipertensi
Menurt kriteria JNC VII, tekanan darah normal manusia adalah kurang dari 120/80. Dikatakan hipertensi bila tekanan darah lebih dari 140/90. Diantara keduanya terdapat rentang yang disebut pre-hipertensi, dimana seseorang harus berhati-hati supaya tidak berlanjut ke arah hipertensi.

Penderita hipertensi dikatakan beresiko tinggi bila tekanan darah melebihi 180/110 atau memiliki setidaknya 3 faktor resiko kardiovaskuler (hipertensi, merokok, obesitas, kurang olahraga, dislipidemia, diabetes, mikroalbuminuria, usai lebih dari 55 tahun pada pria dan lebih dari 65 tahun pada wanita, serta riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskuler).

Penatalaksanaan Hipertensi
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah modifikasi gaya hidup. Faktor kardiovaskuler yang bisa dicegah sebaiknya dihindari, misalnya dengan tidak merokok, mengurangi berat badan bila obesitas, rutin berolahraga, mengontrol kadar lemak dan gula darah serta mengurangi penggunaan garam.

Khusus untuk konsumsi garam, hendaknya pasien tidak pantang garam sama sekali, karena ternyata pantang garam akan mengurangi nafsu makan dan membuat badan menjadi lemas. Jadi cukup dengan mengurangi porsi garam saja.

Penggunaan obat anti hipertensi terbaru dari golongan Angiotensin II Receptor Blocker (ARB), semisal telmisartan dan irbesartan, juga perlu dipertimbangkan untuk menangani kasus hipertensi. Sangat baik terutama bila dikombinasikan dengan golongan diuretik (Hct).

Penelitian di Switzerland (2006) menunjukkan bahwa penggunaan irbesartan mampu meningkatkan usia harapan hidup, mengurangi angka kejadian gagal ginjal dan menghemat biaya pengobatan.

Target penurunan tekanan darah yaitu di bawah 140/90 untuk pasien tanpa komplikasi dan dibawah 130/80 untuk pasien yang menderita diabetes atau kelainan ginjal.


"Prof.DR.dr.H.Ahmad H Asdie,SpPD-KEMD dan Prof.dr.H Muhammad Anwar,M.Med.Sc,Sp.OG, dua-duanya adalah pembicara yang mumpuni"

Hipertensi dengan Diabetes
Untuk pasien dengan diabetes, obat anti hipertensi yang dianjurkan adalah ACE-Inhibitor (misalnya captopril atau enalapril). Prof.DR.dr.H.Ahmad H Asdie,SpPD-KEMD juga menambahkan bahwa pasien diabetes sebaiknya juga menerima dengan ikhlas apa yang terjadi pada dirinya, karena ternyata faktor hormon stress juga berpengaruh dalam pengendalian tekanan dan gula darah.

Hipertensi dengan Penyakit Jantung
DR.dr.H Munawar Sp.JP(K) menganjurkan penggunaan beta blocker atau calcium antagonist pada pasien dengan angina pektoris stabil (nyeri dada saat aktivitas). Beliau juga menganjurkan penggunaan ACE-Inhibitor maupun ARB pada pasien dengan riwayat infark miokard akut atau gagal jantung.

Hipertensi dengan Stroke
Penurunan tekanan darah pada stroke harus hati-hati mengingat penurunan tekanan darah akan menurunkan juga aliran darah otak (cerebral blood flow). Menurut Prof.DR.dr.H Rusdi Lamsudin,M.Med.Sc,Sp.S (K), penurunan tekanan darah pada stroke akut diijinkan bila didapatkan tekanan darah lebih dari 220/120 pada stroke iskemik, lebih dari 185/110 pada stroke yang akan diterapi dengan r-TPA atau lebih dari 180/100 pada stroke perdarahan.

Terapi Tambahan
Kadar lemak darah hendaknya juga dikendalikan, misalnya dengan modifikasi gaya hidup dan penggunaan statin bila perlu. Target penurunan total kolesterol yaitu di bawah 175 mg/dl. Terapi aspirin dosis rendah juga sangat dianjurkan, walaupun tekanan darah sudah terkontrol.

7 komentar:

Stranger mengatakan...

Artikelnya sangat bagus sekali, menarik sekali banyakin dong artikel kesehatannya biar kita2 bisa update terus terus terutama hasil-hasil seminar, dan sejenisnya.

Andri Kusuma Harmaya mengatakan...

Yup mas stranger,akan saya usahakan.Terima kasih. ^_^

Anonim mengatakan...

Perjalanan hidup"seorang dokter jawa"..huaah maaf bung tidak ada yg menarik dgn perjalanan hidupmu,anda blum pantas menuliskan itu di halaman anda SEBELUM kamu mengabdikan ilmu&jiwa ragamu dgn PTT kriteria ST dibumi papua,mata batinmu akan terbelalak pasca itu,saat ini maaf kamu blum kredibel buat eksis di dunia maya skalipun krn kamu blum teruji nyalimu..thankz(dr.ifrida :dr PTT kab Asmat Papua)

Andri Journal mengatakan...

Kisah hidupku memang selalu konyol dan tidak berguna..hiks.. :(

aesculapius265 mengatakan...

.. bukankah berbagi ilmu walau tak seberapa itu tak apa ..:) dok ifrida, saluut ptt di papua ui ..:)

Anonim mengatakan...

Terima kasih atas artikelnya. klo ad up date terbaru kabar-kabarin lagi y.

gun mengatakan...

Ini bagian dari manfaat bloging : berbagi informasi.
Salut deh, masih ada waktu tuk nulis laporan dan membagikannya.

Tapi - ini sekedar share aja - untuk urusan hipertensi ini ada beberapa kawan sembuh dengan minum air rebusan daun ingbau. Dan saya coba untuk asam uratpun ternyata bagus.
Sebenarnya gimana sih Mas Andri, mengenai terapi herbal itu?? Apa ga di perhatikan di dunia kedokteran?? Kayanya makin banyak fakta bahwa itu positif, lho.

Oke, moga terus maju dan berprestasi.

Recent Comments