Quote




Be thankful for what you have; you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough.

~ Oprah Winfrey

Rabu, 29 April 2009

Apa yang saya tahu tentang Belanda?

Apa yang saya tahu tentang Belanda? Saya hanya tahu bahwa ada bunga tulip dan kincir angin di sana. Sedikit tambahan bahwa ada tempelan pipi tiga kali khas Belanda: kanan, kiri, dan kanan lagi seperti yang dikisahkan Andrea Hirata dalam novel Edensor.

Tapi saya memberanikan diri untuk ikut kompetisi blog yang diadakan oleh Neso Indonesia bekerja sama dengan DagDigDug ini. Bukannya saya takut kalah, malah sebaliknya, saya takut menang. Dalam pengumuman disebutkan: “Pemenang dari masing-masing kategori akan berkesempatan mengikuti Summer Course selama dua minggu (6-17 Juli 2009) di Utrecht University Summer School, Utrecht, Belanda. Di sana mereka akan dapat merasakan langsung suka duka menjadi bagian dari mahasiswa internasional di Belanda, dan memperoleh referensi mengenai budaya dan identitas bangsa Eropa secara umum. Pemenang akan diminta untuk menuliskan pengalamannya selama di Belanda lewat blognya”.

Ommmaaa…

Bagaimana saya bisa bercerita seperti halnya Raditya Dika yang terkenal itu, manakala sudah sampai di Belanda saja lutut saya mungkin bergetar? Bagaimana saya bisa merasakan langsung suka duka menjadi bagian dari mahasiswa internasional di Belanda manakala bicara dengan bahasa Inggris saja masih ba-bi-bu?

Menurut saya, itu semua tak penting. Toh saya punya tujuan lain menulis artikel ini. Saya hanya ingin menyampaikan kepada Anda semua -para pembaca setia Andri Journal yang budiman- bahwa ada satu negara nun jauh di sana yang sistem pendidikannya lebih maju dari Indonesia. Nama negara itu adalah: BELANDA.

Saya mengenal lebih jauh tentang Belanda dari buku karya Prof.Dr.R.M. Padmosantjojo berjudul “Aku dan Bedah Saraf Indonesia” yang diterbitkan oleh PT Bhuana Ilmu Populer. Prof Padmo adalah kepala bagian bedah saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Beliau sempat mengecap pendidikan bedah saraf di RS Groningen selama dua tahun (1966-1968), atas biaya pemerintah Belanda.

Bukan main hebatnya prestasi Prof yang satu ini. Salah satu prestasi kelas dunia yang berhasil beliau ukir adalah pemisahan bayi kembar siam dempet kepala yang dilakukan di Jakarta pada tahun 1987. Sebuah prestasi yang tidak bisa ditandingi oleh ahli bedah saraf manapun di tahun yang sama.

Beliau pernah ditawari menjadi pegawai di Belanda karena prestasinya itu, dengan gaji yang lebih tinggi daripada menjadi pegawai negeri di Indonesia tentunya, tapi beliau menolaknya semata-mata demi darma baktinya kepada tanah air.

Studi Di Belanda

Dalam bukunya, Prof Padmo mengakui bahwa sistem pendidikan bedah saraf di Belanda lebih baik daripada Indonesia. Di sana, pendidiknya cukup baik dalam segi jumlah berikut pengalamannya. Variasi penyakit yang ditangani juga cukup banyak. Fasilitas penunjang, baik untuk diagnosis maupun operasi sangat lengkap. Belum lagi ditambah dengan tersedianya fasilitas perpustakaan yang lengkap, disertai kesediaan petugas perpustakaan untuk mencarikan buku-buku tanpa biaya dan selalu cepat.

Bahkan, saat Prof padmo mengadakan penelitian, semua biaya ditanggung oleh Universiteit Groningen, baik pengadaan literatur, maupun percobaan binatang dan pemeriksaan yang lain seperti pemeriksaan radioisotop, mikroskop elektron, dan radiologi. Semua percobaan binatang dilakukan di gedung yang dibuat khusus untuk percobaan binatang. Gedung itu cukup besar, berukuran 40 meter x 20 meter, terdiri dari delapan lantai, lengkap dengan gudang, fasilitas pemasok binatang dan makanan binatang.

Di RS Groningen, Prof Padmo mempelajari banyak teknik operasi dari guru yang berbeda-beda. Ambil contoh Dr. Van Manen yang mengajar tentang teknik operasi baru untuk pasien Parkinson yang bernama operasi stereotaktik. Ada pula Prof. Laurenz Penning yang mengajar tentang pemeriksaan neuroradiologi. Malahan belakangan Dr Van Manen melengkapi Prof Padmo dengan alat operasi stereotaktik lengkap disertai atlas stereotaktik dari otak, untuk dapat digunakan di Indonesia.

Dari Groningen, Prof Padmo pernah juga ditugaskan ke Tilburg yang notabene peralatannya kurang lengkap, mirip dengan kondisi di Indonesia. Tapi menurut beliau, itu malah bagus untuk mematangkan kemampuan, sehingga ilmunya bisa langsung diterapkan di Indonesia sepulangnya dari Belanda.

Jalan-Jalan Di Sela-Sela Studi

Untuk menghindari kejenuhan, ada kalanya Prof Padmo jalan-jalan ke sekitar Groningen dengan mobil pribadi. Ada tiga provinsi yang bisa dituju untuk mengenal sejarah, geologi, keindahan alam sampai flora dan fauna, yaitu Friesland, Drenthe dan Groningen sendiri. Di Provinsi Groningen Selatan dan Provinsi Drenthe terdapat situs prasejarah yang merupakan tempat meletakkan jenazah penduduk jaman batu, yaitu suku bangsa Batavieren. Berupa tumpukan batu-batu besar yang berongga, yang disebut Hunebedden.

Dalam bukunya, Prof Padmo berkisah bahwa Provinsi Friesland dan Groningen aslinya adalah daerah rawa-rawa dan sebagian adalah laut. Proses reklamasi menghasilkan tanah yang dapat ditinggali bahkan dijadikan tanah pertanian dan hutan. Daerah yang hasil reklamasi ini umumnya memiliki ketinggian sama dengan permukaan air laut, bahkan banyak yang di bawah permukaan laut; daerah inilah yang disebut polder.

Pada musim semi, perjalanan ke arah selatan tepatnya di sisi barat Belanda, juga menyenangkan, terutama setelah melihat keindahan taman Keukenhof yang dipenuhi tulip, hyacinth maupun narcissen.

Jadi, mungkinkah saya menempuh studi ke Belanda suatu saat nanti?





Ah, sepertinya saya salah makan pagi ini.


“Kayapa kutu kupret nangkaya ulun kawa batulakan ka Belanda??” (bahasa Banjar); “Mosok wong ndeso koyo aku iso lungo nyang Londo??” (bahasa Jawa); “Masak orang desa seperti saya bisa pergi ke Belanda??” (bahasa Indonesia); “Impossible!” (bahasa Inggris).

16 komentar:

yendoel mengatakan...

kalo sudah baca travellou (*pasti sudah*) manusia harus berani bermimpi.
hehehe... bahasa inggrisnya utk terjemahan bhs jawa sepanjang itu cuman impossible.
nothing is impossible.

semoga dpt yah tiket ke belandanya.

BIG SUGENG mengatakan...

Mudah2an Alloh swt memudahkan jalan dan cita2 mas andri untuk ngambil ilmu ttg syaraf di belanda terkabul. Amiin.

Jangan lupa kalau sudah jadi ahli, jangan terus main obat, main komisi.

Saya salut sama seorang dokter ahli saraf (dr muh asmeldi ? lupa namanya, di supomo (?) Jogja bener ngga sih yang kalau dari galeria setelah jembatan ke arah selatan...
itu kalau milih obat selalu dicarikan yang termurah, tarif juga termurah, pasiennya banyak kebanyakan lansia pensiunan

tapi ada dokter spesialis kulit di dekat gedongkuning namanya dr bambang ...., awalnya waktu baru spesialis tarif 25 rb dapat salep 2, sekarang mau gatel sedikit mau gimana tarif dan obat pasti habisnya minimal 250 rb, sebagai auditor saya meyakini bahwa beliau sudah "main obat"

mudah2an ini diingat seumur hidup yaa, karena pas ngobrol sama tukang taksi mereka juga bisa merasakan.....

yendoel mengatakan...

pas aku baca, Kategori Kompetisi
ada syarat tema kayaknya.
Non-wartawan: tema tulisan “Studi di Belanda, ticket to a global community”
Wartawan: tema tulisan “Belanda sebagai negara tujuan studi”

Andri Journal mengatakan...

@ mbak Yendoel:
Travellous udah baca mbak.Novel2 yg kubaca beberapa jg menceritakan tentang mimpi seseorang yg menjadi nyata.Mimpi itu menurutku ibarat visi,yg mengarahkan seseorang dalam beraktivitas selama hidupnya.Jika aku ke Belanda skr memang rasanya tidak mungkin.Untuk ke sana kan butuh step2 tertentu.Seperti halnya bayi yg ingin berjalan,harus tengkurap dulu,merangkak dulu,dituntun dulu,sebelum akhirnya bisa berjalan.Terima kasih atas doanya. :)

@ pak Big Sugeng:
Amiin. Menurut rektorku dulu tarif dokter spesialis itu tiga kalinya tarif dokter umum,jd memang tidak sama. Kebanyakan tarif dokter spesialis jaman skr memang mencapai ratusan ribu (sudah termasuk obat).Itu bisa karena obatnya yg mahal,apalagi obat2 keluaran terbaru.Yg saya tidak setuju itu kalo mahalnya tarif karena biaya sekolahnya mahal.Karena itulah, saya tidak bermimpi sekolah ke luar negeri dg biaya sendiri.Saya hanya maw sekolah ke luar negeri kalo dapat beasiswa..hehe..

Anonim mengatakan...

Wah...kayaknya ikut kompetisinya ndadak ya mas...but tetep tak doain menang kok, n semoga bisa ikut belajar di negeri kincir angin...jangan lupa bawain bunga tulipnya kalo pulang ke indonesia..haiah...

Fish's Brain

Andri Journal mengatakan...

@ Fish's Brain:
Amiin.Iya mendadak bgt.Td itu pas aku bilang maw pulang iseng2 googling pake namaku.Ee..ketemu namaku terverifikasi di kompetiblog.Jdnya molor ampe dua jam buat posting ama melengkapi syarat2 buat lomba.Yah,ibaratnya buat memeriahkan aja.Tulip?Titip aja ke sepupumu.Katanya maw ke belanda. ;)

tantursyah mengatakan...

tenang saja mas andri, nanti kalo sudah di belanda takutnya ilang..hehe

grubik mengatakan...

mugo-mugo kelakon tekan londo, bukan londo nggarjo tapi londo holan...

baburinix! mengatakan...

wah mas andri siap mancing ya?
kalo mas andri ke belanda takutnya mas andri dibuang ke suriname....hihi..

Judith mengatakan...

Wieso nicht?? *Kenapa tidak?* boso Jerman :)

Anu Ndri, maturnuwun aku dah nrima Souvenir darimu, yang dikirim lewat Ayin-Norwey. Apa Andri nggak nrima smsku toh? Apik2 souvenirnya. Seneng aku ndhelok souvenir kerajinan tangan dari daerah2 gitu, tradisional banget. Maturnuwun ya dek Dokter. Aku lagi puasa ngeblog Ndri, Irdina hampir sebulan ini dalam perawatan intensiv :(

GBU Ndri, mudah2an sukses ya. Selamat baraktivitas :)

Andri Journal mengatakan...

@ dr Tantur:
Takutnya ilang,ganti grogi ya dok. :p

@ Grubik:
Londo nggarjo?Itu sebelah mananya sukoharjo ya?

@ Baburinix!:
Hahaha..Sampeyan bisa aja. Lha di suriname kan malah ketemu ama orang Jawa. :)

@ mbak Judith:
Aku dah mbalesi sms mu lho mbakyu.Jangan2 nyasar ke Belanda. :D Bunyi sms ku gini,"Soko getah karet mbak.Emange arep maringi souvenir soko kono to?Ra sah repot2 mbak.Suk mben ae yen aku nyang swiss pokoke numpang nang omahmu. :D".Lho,emange irdina kena apa lg? :( Semoga mbak Judith sekeluarga senantiasa diberikan kesehatan.Matur nuwun mbakyu. :)

Judith mengatakan...

Ndri..nganti saiki dhurung sampe smsmu, waahh jangan2 disamber burung layang2 pow? ck.. tentang Dina, sulit menjelaskannya Ndri.. pokoke aku stress berat kiy, malah ditambah akhir2 iki aku seling surup karo garwoku je :( mumet aahh.. Doakan saja ya Ndri ben aku diberi kekuatan dan kesabaran. Maturnuwun :)

Lho Ndri.. souvenir dari swiss juga ono seng apik2 lho.. tradisional e berbeda he hee :D kok abot tenan wong kari ngirim alamatmu wae, ealah..

Andri Journal mengatakan...

@ mbak Judith:
Sing sabar mbakyu,badai pasti berlalu. :) Ojo2 irdina keno masalah podho karo sing mbok critakake nang blogmu biyen? @.@ Alamatku wis tak kirim lewat sms.Mugo2 tekan. :D Yen kiro2 lg repot rasah ngirim souvenir yo ra po po.Souvenir tiap negara,mboh kuwi perancis,indonesia,swiss,belanda utowo norway pancen unik2 kok mbak.Yen ono sing tertarik karo souvenir kapal soko kalimantan kae kan tinggal pesen meneh nyang aku,mengko tak ekspore..hahaha..

si Dyah mengatakan...

Siiip, saya doakan biar bisa ngeblog ttg Belanda yaaa! Amin ;D

Henny Y.Caprestya mengatakan...

semoga bisa pergi ke Belanda. Amiiin

ririn mengatakan...

yaahh... pak dokter,, ini nyeritain belanda.. negara'nya atau dokter padmo'nya? hehehe
ga papa dong, ndri.. ntar kalo menang,,aku aja yang berangkat,,
gya.. gya.. (seenaknya.,. :D)

Recent Comments